Lorong Rasa, 2025, Mixed Media
Menghidupkan Indera (rasa) sebagai lorong waktu
Pameran kecil ini melibatkan banyak pekerja seni dari berbagai latar belakang disiplin yang berupaya menyampaikan hasil kerja yang dirangkum dalam sebuah ruang pagelaran yang bentuknya segi empat. Sangat sederhana namun di dalamnya ada keinginan bahwa lewat pagelaran Seni Rupa ini akan membangun pengertian baru dalam olah seni, dimana salah satunya artwork yang tadinya berupa gambar lukisan dan instalasi dikreasi ulang sebagai sebuah ruang interaksi yang luwes dan bervariasi menjadi seperti memasuki dunia image baru yang kita bisa ikut berenang didalamnya menikmati, merasakan, melihat, membau, mendengar, meraba dan bercengkerama dengan figur, bentuk maupun suasana yang dibangun dalam ruang gelar tersebut.
Jika dalam paham lama ada pengertian seni dua atau tiga dimensi, maka dalam hal ini saya berupaya memasuki dimensi keempat yakni ruang dan waktu. Waktu disini berarti tanpa batas dan ruang menggeser dari benda menjadi bunyi, agar pergeseran ini mendapat angin segar tanpa masuk angin dan membikin sakit selesma. Gagasan ini juga dimungkinkan terjadi karena kita mempunyai pertanyaan dan kegelisahan tentang nalar keindahan yang menjadi semakin kompleks dan medan Seni yang semakin menggelembung dengan ruang batas yang makin menipis antara Seni, ilmu, teknologi dan pasar. Siapa tahu dalam pagelaran Seni yang kecil ini kita bisa menemukan jawabnya. Mari kita tonton bersama dengan gembira dan siapa tahu pula bisa menemukan pengalaman baru.
Dalam menelusuri lorong sempit sepanjang 17 meteran itu dimaksudkan kita bisa memasuki waktu, ingatan, emosi sesaat yang telah mampir di tengah lautan ingatan kita. Dengan melenturkan diri dalam membuka panca Indera untuk berjalan mengarungi kehidupan yang biasa, seperti misalnya kita bisa merasakan kaki atau tangan ketika menyentuh sesuatu yang kasar, keras maupun lembut, yang hanya bisa kita rasakan jika rasa dipermukaan kulit itu bisa menyentuh secara alami dan nyata. Bersamaan itu pula kita mencium aroma atau bau dari daun, tanaman kering maupun padi yang belum lama dipanen dari sawah. Desir angin yang menimpa badan ataupun tubuh yang tertiup dengan keras atau lembut mendatangkan pori pori tubuh kita membuka dan menerima impuls angin tersebut. Mata dan telinga dengan kepekaan inderawinya tentu saja dengan mudah menerima rangsang yang tiba-tiba muncul sebagai suara, warna maupun garis garis yang saling bersentuhan dengan cepat, sementara indera pengecap kita dalam beberapa saat ketika memasuki lorong telah mengulum berbagai rasa alami seperti manis, getir, pahit, dst.
Ruang dan waktu
Rasa didalam pengertian yang ingin disampaikan, terhubung langsung maupun tidak langsung dengan kehidupan masing masing orang. Ingatan juga menjadi salah satu ikatan kuat untuk menghidupkan panca Indera. Dalam lorong ini saya hanya ingin membuka rasa agar ingatan jenis apapun itu keluar dan tubuh menjadi kekuatan jiwa yang tidak perlu dihindari akan tetapi bisa menembus memasuki dan membangun menjadi kekuatan mental yang baru.
Untuk kelanjutan kehidupan yang hanya sesaat, dalam khasanah jawa dikenal “mung mampir ngombe” (hidup itu hanya sesaat ibarat mampir sebentar mencari minum) dan juga sekaligus bergantung tanpa ikatan “pratitya samutpada”. Hidup itu lalu dibebaskan dari kurungan yang sempit. Rasa itu aliran tubuh kita yang melewati Indera kita. Sedang jiwa itu terbangun dari hubungan yang dalam dan terus menerus dari komponen rasa, indera dan tubuh. Dimana pada suatu titik tertentu bertemu dengan ruang dan dimensi lain dari sekitar kita. Disinilah baru ada pertemuan dengan ingatan sebagai sejarah perjalanan panjang yang akan mampu menumbuhkan imajinasi dan rasa kreatifnya menuju rasa estetik dan artistiknya.
Hal pertama: Ketika kita memasuki ruang pameran, sebuah pagelaran sedang bersiap menyambut kita. Dalam arti kita sedang memasuki dunia imajiner dengan membuka seluruh panca indriya. Pertama sebuah permen yang sudah disediakan sebaiknya dikulum, dijilat, dikecap layaknya seorang anak kecil menikmati permen dimulutnya. Sensori ini untuk mendapatkan pengalaman rasa dari pengecap lidah kita, merasakan rasa warna warni yang ada diakhir rasa Itu. Bahan yang disajikan ini semua organik berasal dari daerah pegunungan Sewu yang menjadi salah satu ide dari karya dalam pagelaran ini. Nikmatilah sajian rasa kecap ini hingga tuntas.
Hal kedua: Gunakan tangan merayapi dinding lorong agar bisa merasakan rasa yang bisa dirasakan oleh permukaan kulit kita, apakah lembut atau kasar Sekaligus di dalam lorong ini kita akan merasakan hembusan angin, bau yang bermacam macam sehingga seluruh Indera kita merasakan dengan apa yang dinamakan sensasi. Di langit langit akan tampak lintasan garis warna merayap menggoda mata kita atau dikaki kita akan muncul ombak seakan kita menyeberangi lautan. Sementara di depan mata kita tergambar lelehan magma Merapi yang berpijar bagai api melintasi jalan raya. Itulah lorong sensasi yang mengaduk emosi dan memberi pengalaman pendek pada apa yang dinamakan membuka Indera. Setelah keluar dari lorong kita akan menemukan Dunia yang lebih terbuka.





