Semprang, 2020, Mixed Media

Suatu hari ketika saya berdiri diatas puncak gunung batu gamping (karst) memandang sekeliling, tampak wajah alam yang gersang, sunyi, tenang kadang kelam. Itulah bentang alam pegunungan Sewu juga disebut Gunung Kidul. Secara kebumian tempat itu telah berusia 60 juta tahun membentang sepanjang 1800 km dari Kebumen hingga Pacitan. Meski genesisnya pulau Jawa yang memukau ini dihuni oleh manusia prasejarah hingga masa milenial tak juga langsung mengubahnya menjadi hunian atau sebuah kota terbuka. Dia dipengaruhi sangat kuat oleh bentang alamnya, tidak tumbuh teknologi sebagai pemacu perubahan , jauh dari unsur modern. Akan tetapi dibaliknya tersimpan energi gerak,warna,suara,sense indra bagai simfoni musik dan tarian alam yang indah. Gunung gamping dengan 40.000 puncaknya yang runcing itu telah bertahan sepanjang usianya tanpa perubahan teknologi dan modernitas ditengah perubahan dan pergeseran untuk tidak hilang. Akankah ketangguhan alamiah itu akan menjadi inspirasi kreatif?

Daya tahan, kekuatan, keberanian dan kebahagiaan adalah mitologi baru ditengah masa pandemi ini. Seperti yang telah ditunjukan oleh mahluk kecil yang hidup sebagai penanda air, dialah capung (dragonfly) jenis serangga yang mempunyai ‘seribu nama lokal : semprang, kinjeng, tokiyik, bandempo, coblang, papatong, sibar-sibar dst. Konon orang Jawa menyebut kapal terbang sebagai ‘kinjeng wesi’. Karena dia mampu bergerak cepat mengarungi samudra dan bermigrasi antar benua. Ketahanan, kelenturan dan kekuatan itulah yang sekarang kita perlukan agar hidup kedepan bisa dihadapi. Seperti keindahan serangga kecil yang pemberani hidup diantara tebing tinggi pegunungan karst yang sunyi dan berat penuh tantangan tetapi terbang dengan penuh kebahagiaan sebagai pengelana.

Details