Gunung Sewu, 2019, Akrilik di atas Kanvas, 260 x 180 cm

Banyak nama untuk menyebut Pegunungan Sewu yang membentang dari gumuk pasir Parang Tritis hingga pantai Pacitan, yang disebut Klayar. Keluasan itu membentang hampir sepanjang 1802 km terbagi dalam 3 area/Kabupaten. Gunung Kidul, Wonogiri dan Pacitan. Sebutan lainnya adalah Pawonsari singkatan dari Pacitan-Wonogiri-Wonosari. Masih ada lagi nama yang mendunia yang diberikan oleh UNESCO sebagai bagian dari warisan dunia tahun 2015, yaitu Global Geo Park Network. Pegunungan Sewu merupakan kawasan karst tropik terluas di Asia Tenggara dengan 40.000 puncak perbukitan.

Para ahli kebumian memperkirakan usia pegunungan karst yang dulunya muncul dari dasar samudra itu sekitar lebih dari 60 juta tahun. Bahkan para ahli mengatakan kawasan karst ini sebagai pusat lahirnya pulau Jawa. Dengan dasar penemuan pergeseran lempeng bumi dan munculnya gunung berapi yang pernah meletus sangat dahsyat. Data kebumian ini bisa kita lihat sampai sekarang yang mereka sebut sebagai Gunung Api Purba Nglanggeran yang terletak tidak jauh dari ibukota Kabupaten Gunung Kidul, Wonosari. Bahkan gunung purba ini mempunyai anak gunung di sebelahnya yang bernama Gunung Sumilir, kira-kira semacam anak Krakatau di abad 20 itu.

Sebenarnya kawasan geopark in terhubung dengan situs kebumian yang lain yaitu Karang Sambung yang terletak di kota Kebumen, yang dianggap lebih tua secara usia dan merupakan sumber tabrakan lempeng di lantai samudra. Proses kegiatan tektonik ini berakibat ditemukannya banyak jenis bebatuan yang keras dan arahnya cenderung vertikal, termasuk diantaranya yang disebut lava bantal, fosil/renik binatang laut. Sedangkan kawasan Pegunungan Sewu banyak ditemukan abu vulkanik dan karang, yang ditandai oleh ditemukannya banyak goa maupun sungai dibawah bebatuan yang sangat dalam. Adanya air yang terus mengalir ditandai oleh bermukimnya kepiting khas daerah karst yang amat jarang ditemukan yakni kepiting Jacobson yang mempunyai ciri khas kaki panjang, warna pucat dan mata sipit. Mereka adalah binatang pelari dan pemanjat gunung yang handal. Jika fauna endemik penjaga air dg nama familia karstarma jacobsoni masih hidup bahkan berkembang biak artinya ketersediaan air masih cukup. Dalam gua maupun kawasan karst itu juga banyak ditemukan litik atau peralatan dari batu, dimana sudah ada indikasi bahwa kawasan itu pernah menjadi hunian manusia purba. Namun anehnya ada pemisahan secara alamiah dimana gugusan batu dan kawasan pasir yang terjadi dari letusan vulkanik itu menjadi terpisah. Alhasil geopark yang kaya dengan bebatuan dan gumuk pasir itu dalam jangka jutaan waktu berikutnya menjadi miskin oleh air serta memiliki kehidupan vegetasi yang sangat terbatas. Singkat kata kawasan heritage kebumian ini menjadi daerah yang jauh dari makmur dan dianggap sebagai daerah minus tempat para perampok dan pelarian bersembunyi dari pusat pemerintahan kerajaan di abad XVII- XX.

Bahkan di zaman Orba untuk membuat kehidupan daerah minus itu bisa dihuni oleh manusia biasa pemerintah mencanangkan penanaman pohon jati dimana pohon itu bisa menjadi komoditi yang mempunyai nilai ekonomi. Selain itu secara politik zaman pemerintahan militer daerah tersebut dikenal sebagai pembuangan “petrus” (pembunuhan misterius). Jadi mereka punya tabungan dari menanam jati akan tetapi hidup keseharian mereka tetaplah jauh dari air dan tanaman yang bisa dikonsumsi sehari-hari. Hidup selalu dalam kerangka survival adalah hidup yang biasa saja di kawasan alam prasejarah itu. Sama dan sebanding dengan pohon sebagai komoditi adalah juga memelihara ternak kambing dan sapi. Kedua hal tadi secara ekonomi nyata juga tidak memecahkan masalah, hanya menggeser dari konkrit ekonomi menjadi perasaan aman jika ada tabungan.

Oleh karenanya pengertian tabungan menjadi jalan keluar dari keadaan alam yang tak tertanggulangi lagi secara rasional. Seperti halnya terhadap mitos mereka tentang samudra yang nan luas tak terbatas, dimana secara nyata itu sumber konsumsi/makan yang bisa diandalkan. Tetapi nilai mitos bisa mengalahkan kebutuhan yang nyata. Mitos dewi penguasa lautan selatan atau mereka sebut sebagai mbah Ratu Kidul menjadi nyata dalam kehidupan masyarakat di kawasan Pawonsari itu. Turun ke laut bukanlah hal yang mudah dilakukan. Padahal mereka kebanyakan tinggal di kawasan pinggir laut namun sekaligus ketakutan akan laut seperti hantu yang akan selalu datang setiap saat. Maka upacara sedekah laut menjadi jalan keluar agar mitos itu tetap ada dalam sejarah kehidupan manusia di Pegunungan Sewu itu. Mereka akan selalu berjuang mencari nafkah agar tetap bisa menabung bagi kehidupan sosial berikutnya. Takut air adalah nyata sebagai ketakutan akan kematian, disamping pengertian melaut dianggap pekerjaan yang hina. Jadi mitologi bisa jadi sebagai kata lain dari kemiskinan.

Mengikatkan diri pada alam yang luas dan keras sekaligus penuh misteri. Memaknai kehidupan dan bersyukur ditandai dengan ‘kebahagiaan’ bersama selamanya. Pengertian menabung lalu menjadi penting sebab tidak hanya dalam pengertian saving akan tetapi tabungan dunia akhirat dalam arti hubungan sosial maupun hubungan vertikal dan horizontal. Hubungan itu dimaknai dalam kegiatan nyata seperti ‘rewang’, komunitas ‘trah’, arisan maupun upacara upacara dalam bentuk budaya. Tampak rukun harmonis seperti ungkapan slogan pemerintahnya, HANDAYANI (Hijau, Aman, Normatip, Dinamis, Amal, Yakin, Asah Asih Asuh, Nilai Tambah, Indah.

Pengertian rewang pada umumnya masyarakat Pawonsari seolah mempunyai implikasi budaya yang lekat sebagai pandangan hidup atau way of life. Dimana tanpa mengikuti kegiatan tersebut seakan tidak dianggap menjadi warga dunia Pegunungan Sewu itu. Maka rewang mempunyai arti sama dengan tenaga, sumbangan, memberi, membantu, menabung, suka rela, membayar, membalas, dst yang berarti harus dilakukan oleh setiap warga, agar dianggap hidup normal punya gengsi dan martabat. Yang termasuk dalam kegiatan rewang ini adalah seperti kematian, jagong bayi, sunatan, penganten, tilik orang sakit, arisan, baik tenaga atau uang, membangun rumah, memperbaiki jalan atau saluran umum dst. Maka rewang lalu menjadi aspek pengikat sosial yang nilainya setara dengan jiwa manusia Pegunungan Sewu itu sendiri. Kelahirannya dibutuhkan agar kelangsungan hidup tetap bisa dipertahankan sebagai manusia pegunungan dalam menghadapi serangan dari luar. Sebagian masyarakat menjadi mudah beradaptasi ketika mereka berhadapan dengan dunia luar tetapi sebagian belahan lain seakan beku terpaan angin manapun. Terhadap dunia konsumsi yang datang bagai air bah namun tanpa suara menyelinap di seantero kehidupan, mereka tak berkutik bahkan tidak mengerti bahwa tempat berpijak itu goyah. Lewat para wanita yang sangat luwes beradaptasi dunia rewang semakin menancap sebagai harga diri yang dengan biaya apapun dan berapapun akan dijalaninya.

Dulu kata orang-orang tua kisaran umur 60 tahun sebelum gempa 2006 yang menerpa hampir seluruh DIY, ‘nyumbang’ sebagai salah satu kegiatan bermasyarakat tidaklah seperti sekarang yang kesannya seolah jor-joran. Perempuan dan lelaki seakan mempunyai tempat yang seirama dengan suaminya dalam bekerja. Seumpama lelaki bekerja mendapatkan uang untuk kebutuhan hidup sehari-harinya, perempuan bekerja di rumah melayani kebutuhan keluarga dengan membuat sendiri makanan beserta mencari bahannya di hutan, mereka menyebutnya ‘ngalas’ (menyang alas). Anak anak dibiarkan bermain atau membantu di rumah atau ikut ngalas.

Sekarang tidak tampak lagi perempuan muda yang sigap menggendong kayu dan mencari ramban (pakan ternak) di tepi hutan. Mereka asyik memencet tuts telepon genggamnya dan sebentar sebentar meneriaki kawannya untuk bisa bicara di telpon tadi. Mereka punya alasan bersepeda motor antar jemput anaknya ke PAUD, ke pasar, bertandang ke rumah lain atau urusan bisnis online. Memasak sudah cukup beli di warung, mencuci baju sudah ada laundry. Kebutuhannya hanya satu, ada uang untuk bisa menjalani hidupnya yang semakin jauh dari ngalas dan rumah kayu. Maka kegiatan rewang pun lalu mengalami pergeseran. Lelaki yang bekerja keras dengan tenaga otot dan kemampuannya yang seringkali harus berakrobat untuk bekerja apa saja demi mendapatkan uang. Sementara perempuan menjadi sangat terkontrol agar hidupnya selaras dengan perkembangan gaya hidup. Patron atau panutan para perempuan pengikut gaya hidup ini adalah gaya hidup orang kaya. Seperti tampak di layar teve, layar telpon genggamnya maupun barang yang dijajakan sebagai barang kredit di seantero gang kampung pegunungan itu. Para lelakipun juga tidak mau kalah dalam menegosiasikan kemiskinannya. Secara sembunyi-sembunyi mereka ikut dalam lotre mengadu untung di warung kelontong yang sempit untuk sekedar mendapat hadiah rokok, kaos atau uang.

Jadi perjuangan keluarga tidak lagi berjuang bersama akan tetapi sendiri-sendiri dengan fantasinya masing-masing agar hidup bisa terjalani secara harmonis. Sebab para wanita yang agresip dengan gaya hidupnya telah mengambil posisi sebagai penentu jalannya pemerintahan rumah tangga. Dan para lelaki takut kehilangan ‘selimut’nya jika para wanita mulai ngambek. Maka dalam bahasa sekolahan perempuan-perempuan Pegunungan Sewu ini hampir memiliki kekuatan simbolik untuk mengadakan perubahan sosial, lewat bahasa dan wahana konsumsi. Perempuan membawa potensi sebagai katalisator perubahan.

Details