
Krakatau, 2019, Tinta di atas Kanvas, 250 x 180 cm
Ketika setengah belahan bumi diselimuti gelap selama 5 bulan dan gelombang besar tsunami, badai dan angin menghempaskan kapal dan nelayan ke pusaran badai besar. Melindas kota meluluh lantakan kehidupan secara terus menerus hingga semua makhluk hidup dilenyapkan dalam sekejap. 36.417 jiwa manusia tiba tiba hilang tanpa jejak. Pada saat itu tahun 1883 orang mengira dunia kiamat. Itulah gambaran letusan terdahsyat sepanjang masa sebuah Gunung bernama Krakatau yang terletak di gugusan Selat Sunda, Jawa Barat. Hampir separuh permukaan bumi diselimuti awan dan mengakibatkan perubahan musim diseluruh belahan planet ini. Pelukis Inggris William Ascroft melukiskan perubahan warna dilangit ketika mata hari tenggelam berwarna merah, jingga seakan terbakar dalam gambar kecil yang sangat banyak. Sementara Edward Munch melukiskan “Scream” [1893] yang mashur itu terinspirasi dari letusan Krakatau tadi. Tiga puluh tahun kemudian sejak letusan itu secara perlahan muncul kehidupan baru dari Krakatau yang telah luluh lantak, kemudian disebut anak Krakatau. Sebuah awal kehidupan di zaman baru dimana manusia dengan pikiran dan kecerdasannya bisa mencatat awal dunia.





